MENGEMBALIKAN KIPRAH “SI OEMAR BAKRI SEBAGAI SOSOK PAHLAWAN TANPA TANDA JASA”

“Mau ngabdikan ga mesti jadi PNS mil”, begitu kira-kira chat saya dengan seorang teman baik yang telah lama saya kenal sebagai salah satu aktivis lingkunagn hidup ini. Seperti di hentakan kambali ke bumi setelah membaca chat dari salah satu teman ini saya bingung dan kewalahan membalas chat dari temanku ini, diawal percakapan saya lah yang mendominasi saya bercerita ini dan itu pendidikan begini dan begitu, dan pada akhirnya saya di berhntikan oleh satu kata, apa iya hanya PNS yang jadi orietasi saya seberapa matrenya saya? akhirnya saya kembali berfikir apakah saya benar-benar seorang guru yang pantas di gugu dan di tiru pendidik yang ikhlas yang  tidak mengharapkan imbalan, ahhh saya merasa saya terlalu idealis dengan pikiran pikiran macam ini. Hal-hal yang begini hanya ada di kisahnya Oemar Bakri. Saya kehilangan teladan selama ini saya telah melangkah jauh dari porosnya, jauh melampaui batas, orientasi saya berubah bukan lagi menjadi pendidik  atau seorang guru yang ikhlas membina murid-muridnya tapi sekarang orientasi saya berubah menjadi uang- jabatan-sertifikasi-hidup enak sampai pensiun, untuk sejenak itulah zona ternyaman yang ada di pikiran saya.

Sesaat saya merasa tidak ada yang salah dengan pola pikir saya selama ini, toh kita sebagai makhluk sosial tidak bisa di pungkiri kita membutuhkan materi untuk bertahan hidup, mulai dari sandang papan, pangan dan kebutuhan yang lainnya seperti gadget, pulsa dan kehidupan sosial lainnya. Tapi akhirnya saya kembali berpikir betapa rendahnya saya apabila hanya itu yang saya kejar hidup enak kerja setengah hari dengan sertifikasi yang di bayar tiap bulan, tanpa berfikir sesuaikah usah dan kinerja saya selama ini? Hina sekali saya membayangkan diri dengan pikiran-pikiran yang selama ini ada di benaku.

Selama ini saya selalu berteriak mengenai pengabdian tanpa tapal batas pendidikan yang baik yang tidak bisa di nikmati oleh semua orang ini. Apakah saya masih sama? Masih rela berkorban, ikhlas mengabdi kepada nusa bangsa dengan cara menjadi pendidik yang ikhlas hatinya?

Saya harus merenovasi hati saya kembali bahwa materi memang penting tapi yang lebih penting dari itu adalah seberapa manfaatnya kita bagi sekitar,  kalau dulu saya selalu ikhlas menjadi bagian dari volunteers yang tidak di bayar sekarang saya harus berpikri dua kali untuk menyanggupi tidak di bayar. Sungguh dunia memang kejam, yang terkadang memaksa kita menjadi matrealistis. Ayo merenovasi hati mengembalikannya seperti semula di mana kita bisa ikhlas dengan setiap keterbatasan, tanpa mengeluh memberikan ilmu dengan sepenuh hati mengerahkan segala yang kita punya demi anak-anak bangsa tanpa berpikir mengenai materi. Jikalau hikayatnya GURU ADALAH PAHLAWAN TANPA TANDA JASA mari kita kembalikan hikayat itu bahwa kita adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bukan sosok matrealistis, tapi kita adalah sosok sederhana yang bersahaja yang pantas untuk digugu dan ditiru seperti Oemar Bakri-Oemar Bakri yang rela berjuang dengan segenap hati mereka menjadi pahlawan yang tiada di kenang tapi mampu membangun bangsa…..

Advertisements

Indonesia, merdeka (katanya…)

Seriusan Indonesia sudah merdeka?
Refleksi 70 tahunIndonesia merdeka (katanya)

Sorak sorak bergembira, bergembira semua telah bebas negeri kita Indonesia merdeka….
Kutipan lagu diatas buat bulu kuduk ku merinding, Indonesia telah merdeka dari penjajahan selama berabad-abad. Penjajahan secara fisik itu pun telah berlalu, mental bangsa pun sudah mulai percaya diri karena telah merdeka, benarkah Indonesia telah merdeka?

Secara kedaulatan Indonesia memang telah merdeka, tidak di jajah oleh bangsa asing lagi dan diakui oleh dunia bahwa Indonesia negeri yang telah merdeka, dengan di proklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Indonesia memang telah bebas dan merdeka tapi pada kenyataannya Indonesia masih di jajah sejak dahulu kala sampai saat ini, perbedaannya adalah: kalau zaman pra proklamasi kita di jajah oleh bangsa asing, tapi untuk periode ini Indonesia di jajah oleh bangsanya sendiri, lho bagaimana terjajah oleh bangsanya sendiri? Itulah realitas yang sedang kita nikmati abad ini, nilai perjuangan di masa lalu tidak ada bekasnya lagi. Habis sudah tertelan generasi-generasi hedonis yang hanya mementingkan dirinya sendiri, bangsanya sendiri di tindas tiada ampun, di bohongi di porak-porandakan, di pecah belah demi kepentingan kelompok minoritas. Rakyat jelata seolah-oleh kehilangan hak asasinya sebagai pemilik bangsa. Kekayaan alam di gerus habis habisan di jual keluar negeri tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya. Isinya carut marut para petinggi bangsa seolah-olah menutup mata dan memperkaya diri sendiri. Kultur politik yang semakin jauh dari pancasila dan bhineka tunggal ika. Yang kuat dia yang bertahta, yang kaya dia yang berkuasa. Banyak daerah yang belum merdeka, walau katanya sudah merdeka, merdeka hanya di pulau jawa saja, tak heran banyak wilayah gabungan NKRI yang minta memerdekaan dirinya dari Indonesia, mereka merasa terjajah oleh bangsanya sendiri. Rakyat hampir kehilangan jati dirinya sebagai pemilik bangsa. Adat budaya asli mulai tergerus, anak-anak bangsa sudah mulai malas mengisi kemerdekaan bangsanya sendiri.

Indonesia sudah merdeka katanya??
Banyak anak bangsa yang kesulitan menggapai cita-citanya, semuanya terhalang oleh ego para pemimpin yang mengatas namakan kemanusiaan yang adil dan beradab. Anak bangsa yang gugur sebelum bejuang, anak bangsa yang belum merdeka untuk belajar, untuk bercerita, dan untuk berbangsa dan bernegara. Merek KEHILANGAN HAKNYA sebelum tumbuh. anak bangsa yang di cabut haknya sebelum belajar. Anak bangsa yang di gerus haknya oleh bangsanya sendiri, mereka belum merdeka. Adapun orang tua mereka, sama menderitanya, sama sengsaranya, sama mengenaskannya.

Inikah yang di katakan telah merdeka???

Refleksi untuk kita semua anak-anak bangsa yang katanya adalah agen of change??
Selamat berrefleksi…
“salam merdeka (katanya..)

Semoga Abah di Sayang Allah

“biar miskin seng penting ke sohor lah” kata-kata abah yang ini selalu membuatku tertawa, pada senja itu, senja terakhirku bersama abah…….

Abah begitu aku memamnggil lelaki tua kesayanganku ini, tinggi besar, kulit hitam, berjanggut, tapi tetap manis, seperti artis india, Amitah Bachan hehehe

Abah sosok pekerja keras, penyayang, tapi tetap tegas, pernah pada suatu ketika aku pergi main ke sungai yang jaraknya lumayan jauh dari rumah, dan ketika pulang hampir tiga hari abah tidak pernah menajakku berbicara, beliau memndiamkanku agar tau kesalahanku pergi bermain tanpa izin darinya.

“nduk!! Cepet kebawah!” ah teriakan abah, mebuatku terkejut, “iya abah, sebentar…” jawabku pendek, “cepet abah mau shalat asar dulu, gantian tunggu bengkel,”

“iya abah sabar ini lagi ambil jilbab dulu” jawabku agak tergesa-gesa, “nanti kalo ada yang beli trus ga tau harganya, tanya kak alex aja ya” kata abah sambil berlalu, “iya abah biasanya juga begitu” jawabku singkat.. sore ini sore terakhirku di rumah, besok aku sudah harus kembali menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren khusus putri, sekitar 5 sampai 7 jam jaraknya dari rumah….

Malam harinya setelah menunaikan shalat isya kami makan malam bersama aku dan abahku saja, karena ibu sudah meninggalkan aku dan abah sejak umurku 4 tahun sedangkan kakak-kakaku sedang berada di luar kota untuk mentut ilmu juga, setelah makan malam kami melanjutkan dengan berbincang-bincang santai, seperti biasanya abah selalu bertanya bagaimana keadaan sekolah ku, teman-temanku serta pelajaran-pelajaran apa yang sulit dan mudah, aku selalu sebal ketika abah menanyakan itu, sudah ribuan kali semenjak aku liburan abah menanyakan hal yang sama “ah abah kan abah udah pernah nanya ke milah” jawabku agak kesal, “lha ini kan biar abah inget terus  milah, tau milah kalo d pondok makannya apa aja, temennya  siapa aja, pelajaran apa aja yang mudah, yang susah” kata abah sambil tersenyum, “iya tapi kan abah udah sering tanya itu” jawabku “ya udah abah ga tanya-tanya lagi deh, anak abah udah besar, udah ga mau di tanyain begituan lagi sama abah” kata abah dengan nada kecewa, “yah abah, bukan bgtu, abah tanya hal yang sama terus siiii” jawabku sambi merangkul tangan abah, aku merasa bersalah berkata seperti itu, “maafin milah ya abah sayanggg”, iya di maafin, sekarang beres-beres dulu, besok kan mau pulang ke pondokkan?” tanya abah, “iya abah, siaaap” jawabku asal….

Suara murotal surah al-kahfi itu membangunkan ku pada pukul 2.30 malam, seperti biasanya aku rutin mengerjakan shalat sunnah yang satu ini, dari kelas 4 sd abah sudah membiasakanku untuk bangun dan bermunajat padanya, kata abah seperempat malam ini adalah waktu mustajab, yaitu waktu d kabulkannya doa-doa hambanya yang shaleh, yang berdoa dengan kesungguhan hati..

Ketika menuju kamar mandi, aku berhenti sebentar untuk membangunkan abah, ketika aku buka pintu kamar abah, seketika itu pula aku melihat abah sedang khusyuk berdoa dengan air mata mengalir deras di pipinya, aku tak tau doa apa yang panjatkan pada sang maha cinta, yang jelas pada saat itu aku merasa sedih, merasa ada sesuatu yang berbeda dari abah…

Keesokan paginya, setelah sarapan pagi aku bergegas menuju mobil yang akan mengantarkan aku munuju ma’had tercinta, “nduk, maafin abah ya ga bisa antar milah, hari ini ada yang mau datang dari gunung, kasihan kalo abah tinggal pergi, milah berangkat dengan kak alex aja ya,” kata abah sambil memasukan tas ku kedalam mobil “ iya abah ga papa, kak alex kan lebih kece dari abah” jawabku sambil bercanda, kak alaex adalah ponakan abah yang sudah lama tinggal bersama kami, “milah pamit dulu ya abah, doain miah biar pinter” “pasti doa abah ga pernah putus buat milah, buat emba-emba milah, jangan lupa, milah juga doain abah terus ya, jangan lupa tadarus, jangan nakal, jangn lari-lari nanti jatoh” kata abah sambil memeluku entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak begini, berat meninggalkan abah sendiri, semenjak di tinggal ibu, abah seperti tidak rela kalau anak-anaknya ini pergi jauh, tetapi abah selalu berfikir kalau yang akan membuat kami dewasa adalah dengan cara merantau dan tinggal jauh dari keluarga…..

Aahh akhirnya sampai juga di pondok, aktivitas lagi, belajar lagi, d jars (lonceng) di hukum lagi, hehe, seperti biasa setelah melapor di kantor piket aku segera menuju asrama siti hajar asrama untuk anak-anak kelas 2 kmi (kuliyatul mu’alimat al islamiyah) setingkat SMA, sesampainya di asrama sudah banyak teman-temanku yang datang yang sedang asik berbagi cerita , aku pun tak mau ketinggalan untuk bergabung bergabung bersama mereka menceritakan pengalaman selama liburan, tak terasa jars sudah berbunyi kami semua bersegegera menuju masjid untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah, aku tergopoh2 keluar dari asrama takut kalau ukhty2 takmir masjid sudah berjaga d depan gerbang masjid, bisa kacau urusan kalau berurusan dengan mereka ini bisa-bisa kalian di permalukan dengan melakukan tawaf keliling masjid dan di saksikan oleh ustadzah, ustadz serta seluruh santri di pondok ini mulai dari kelas 1 MTs samapi denagn kelas 3KMI, oh tak ingin rasanya..

“milah, milah intadzirni suaiya…” teriak temanku dari belakang ku, kaget bukan main karenanya, akhirnya kami pun berlari bersama menuju masjid, alhamdulilah, kami masih belum terlambat…

Seperti biasa kami menunggu adzan amgrib dengan bertadarus, setelah itu di lanjutkan dengan shalat magrib berjamaah, setelah shlat kami melajutkan untuk makan malam di dapur umum, ugh.. antri lagii…

Ssetelah puaas antri dan menyantap makan malam di dapur umum, semua santri di kembali ke masjid untuk melaksanakan shalat isya…..

Aktifitas terus berjalan seperti biasa, belajar, jars, jasus, dl

Keesokan paginya ketika menuju kesekolah, tba-tiba aku teringat abah, tak tau kenapa hati ini terasa sakit. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja karena aku masih rindu abah, aku pun bergegas untuk masuk kelas karena lagi-lagi lonceng itu menggangu ketenanganku. Jam pelajaran ke 6 pun berakhir, akmi pun bersiap-siap mrnuju masjid untuk shalat dzuhur dan setelah itu di lanjtkan dengan jam ke 8-10 ughhh….

Sepulangnya dari masjid, aku mendengar namaku di panggil di kantor piket “umi rizkilah minastanati tsaniaka, litandzuri ila …….. akh aku langsung menju kator piket, dalam keadaan bingung aku datang ke kantor piket, betapa terkejutnya aku dsana sudah ada bude’ ku, ada apa bude’ kok tiba-tiba dateng? Masih kangen ya sama milah, kan milah baru satu hari di sini…” kataku asal, “ mm milah skarang ikut bude’ ya, tadi bude udah izin sama sekoalh dan asrama untuk ngajak milah keluar sebentar” kata bude ku, “lha ada apa toh bude? Kok mendadak amat?” jawabku penasaran dan bingung, “ sudah ikut bude cepat” bude’ ku mulai cemas. Sampailah kami di sebuah parkiran rumah sakit, aku bingung ini sebenarnya siapa yang sakit, knpa buru-buru sekali.. “bude ini siapa yang sakit?” pak lek? Kataku penasaran, bude ku hanya diam dengan muka cemas, aku pun ikut cmas aku tak berani menduga-duga.. aahhh tidak mungkin aku mencoba untuk berfikir positif,

Ketika sampai depan ruang icu, betapa kagetnya aku, semua sudah berkumpul dsna, ada mbaa nikmah, mbaa iskomah, semua datang, “mbaa ada apa ini?” tanyaku mulai cemas

“sabar yaa, masih ada mbaa ni’” kata kakak pertamu ini dengan suara bergetar,

“embaa, ada apa sih ini!” kata ku mulai tidak sabar mbaa ku menangis, aku tahu betul itu kenapa….

“abah knpa mbaaa!! Jawaabbb!!!” kataku berteriak, kakak ku mengangis semakin keras, aku tak kuasa menahan berat beban tubuhku dan tiba2 semua gelap..

Abah, kata itu selalu aku rindu ingin memenggilnya, ahh andai abah tau betapa rindunya ahh anadai abah tau betapa rindunya aku berbincang mengenai sekolahku, cita-citaku kepada abah,, ahh abah, andai abah tau betapa aku sangat mencintainya, andai abah tau aku sekarng sudah merantau jauh, seperti kata abah dulu, jika ingin dewasa merantau lah….

Ahh abah, kenapa singkat sekali, tenyata alllah lebih sayang abah daripada aku, aku selau rindu candaan abah kepadaku, suara abah, sarung abah, suara abah, marahnya abah, suara tadarus abah, sekarang kemana lagi rindu ini akan berlabuh abah,, aku selalu sayang abah…

Semoga Abah di sayang ALLAH……………………………

semoga abah disayang allah

biar miskin seng penting ke sohor lah” kata-kata abah yang ini selalu membuatku tertawa, pada senja itu, senja terakhirku bersama abah…….

Abah begitu aku memamnggil lelaki tua kesayanganku ini, tinggi besar, kulit hitam, berjanggut, tapi tetap manis, seperti artis india, Amitah Bachan hehehe

Abah sosok pekerja keras, penyayang, tapi tetap tegas, pernah pada suatu ketika aku pergi main ke sungai yang jaraknya lumayan jauh dari rumah, dan ketika pulang hampir tiga hari abah tidak pernah menajakku berbicara, beliau memndiamkanku agar tau kesalahanku pergi bermain tanpa izin darinya.

“nduk!! Cepet kebawah!” ah teriakan abah, mebuatku terkejut, “iya abah, sebentar…” jawabku pendek, “cepet abah mau shalat asar dulu, gantian tunggu bengkel,”

“iya abah sabar ini lagi ambil jilbab dulu” jawabku agak tergesa-gesa, “nanti kalo ada yang beli trus ga tau harganya, tanya kak alex aja ya” kata abah sambil berlalu, “iya abah bisanya juga begitu” jawabku singkat.. sore ini sore terakhirku di rumah, besok aku sudah harus kembali menuntut ilmu d sebuah pondok pesantren khusus putri, sekitar 5 sampai 7 jam jaraknya dari rumah….

Malam harinya setelah menunaikan shalat isya kami makan malam bersama aku dan abahku saja, karena ibu sudah meninggalkan aku dan abah sejak umurku 4 tahun sedangkan kakak-kakaku sedang berada di luar kota untuk mentut ilmu juga, setelah makan malam kami melanjutkan dengan berbincang-bincang santai, seperti biasanya abah selalu bertanya bagaimana keadaan sekolah ku, teman-temanku serta pelajaran-pelajaran apa yang sulit dan mudah, aku selalu sebal ketika abah menanyakan itu, sudah ribuan kali semenjak aku liburan abah menanyakan hal yang sama “ah abah kan abah udah pernah nanya ke milah” jawabku agak kesal, “lha ini kan biar abah inget terus milah, tau milah kalo d pondok makannya apa aja, temennya siapa aja, pelajaran apa aja yang mudah, yang susah” kata abah sambil tersenyum, “iya tapi kan abah udah sering tanya itu” jawabku “ya udah abah ga tanya-tanya lagi deh, anak abah udah besar, udah ga mau di tanyain begituan lagi sama abah” kata abah dengan nada kecewa, “yah abah, bukan bgtu, abah tanya hal yang sama terus siiii” jawabku sambi merangkul tangan abah, aku merasa bersalah berkata seperti itu, “maafin milah ya abah sayanggg”, iya di maafin, sekarang beres-beres dulu, besok kan mau pulang ke pondok kan?” tanya abah, “iya abah, siaaap” jawabku asal….

Suara murotal surah al-kahfi itu membangunkan ku pada pukul 2.30 malam, seperti biasanya aku rutin mengerjakan shalat sunnah yang satu ini, dari kelas 4 sd abah sudah membiasakanku untuk bangun dan bermunajat padanya, kata abah seperempat malam ini adalah waktu mustajab, yaitu waktu d kabulkannya doa-doa hambanya yang shaleh, yang berdoa dengan kesungguhan hati..

Ketika menuju kamar mandi, aku berhenti sebentar untuk membangunkan abah, ketika aku buka pintu kamar abah, seketika itu pula aku melihat abah sedang khusyuk berdoa dengan air mata mengalir deras di pipinya, aku tak tau doa apa yang panjatkan pada sang maha cinta, yang jelas pada saat itu aku merasa sedih, merasa ada sesuatu yang berbeda dari abah…

Keesokan paginya, setelah sarapan pagi aku bergegas menuju mobil yang akan mengantarkan aku munuju ma’had tercinta, “nduk, maafin abah ya ga bisa antar milah, hari ini ada yang mau datang dari gunung, kasihan kalo abah tinggal pergi, milah berangkat dengan kak alex aja ya,” kata abah sambil memasukan tas ku kedalam mobil “ iya abah ga papa, kak alex kan lebih kece dari abah” jawabku sambil bercanda, kak alaex adalah ponakan abah yang sudah lama tinggal bersama kami, “milah pamit dulu ya abah, doain miah biar pinter” “pasti doa abah ga pernah putus buat milah, buat emba-emba milah, jangan lupa, milah juga doain abah terus ya, jangan lupa tadarus, jangan nakal, jangn lari-lari nanti jatoh” kata abah sambil memeluku entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak begini, berat meninggalkan abah sendiri, semenjak di tinggal ibu, abah seperti tidak rela kalau anak-anaknya ini pergi jauh, tetapi abah selalu berfikir kalau yang akan membuat kami dewasa adalah dengan cara merantau dan tinggal jauh dari keluarga…..

Aahh akhirnya sampai juga di pondok, aktivitas lagi, belajar lagi, d jars (lonceng) di hukum lagi, hehe, seperti biasa setelah melapor di kantor piket aku segera menuju asrama siti hajar asrama untuk anak-anak kelas 2 kmi (kuliyatul mu’alimat al islamiyah) setingkat SMA, sesampainya di asrama sudah banyak teman-temanku yang datang yang sedang asik berbagi cerita , aku pun tak mau ketinggalan untuk bergabung bergabung bersama mereka menceritakan pengalaman selama liburan, tak terasa jars sudah berbunyi kami semua bersegegera menuju masjid untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah, aku tergopoh2 keluar dari asrama takut kalau ukhty2 takmir masjid sudah berjaga d depan gerbang masjid, bisa kacau urusan kalau berurusan dengan mereka ini bisa-bisa kalian di permalukan dengan melakukan tawaf keliling masjid dan di saksikan oleh ustadzah, ustadz serta seluruh santri di pondok ini mulai dari kelas 1 MTs samapi denagn kelas 3KMI, oh tak ingin rasanya..

“milah, milah intadzirni suaiya…” teriak temanku dari belakang ku, kaget bukan main karenanya, akhirnya kami pun berlari bersama menuju masjid, alhamdulilah, kami masih belum terlambat…

Seperti biasa kami menunggu adzan amgrib dengan bertadarus, setelah itu di lanjutkan dengan shalat magrib berjamaah, setelah shlat kami melajutkan untuk makan malam di dapur umum, ugh.. antri lagii…

Ssetelah puaas antri dan menyantap makan malam di dapur umum, semua santri di kembali ke masjid untuk melaksanakan shalat isya…..

Aktifitas terus berjalan seperti biasa, belajar, jars, jasus, dl

Keesokan paginya ketika menuju kesekolah, tba-tiba aku teringat abah, tak tau kenapa hati ini terasa sakit. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja karena aku masih rindu abah, aku pun bergegas untuk masuk kelas karena lagi-lagi lonceng itu menggangu ketenanganku. Jam pelajaran ke 6 pun berakhir, akmi pun bersiap-siap mrnuju masjid untuk shalat dzuhur dan setelah itu di lanjtkan dengan jam ke 8-10 ughhh….

Sepulangnya dari masjid, aku mendengar namaku di panggil di kantor piket “umi rizkilah minastanati tsaniaka, litandzuri ila …….. akh aku langsung menju kator piket, dalam keadaan bingung aku datang ke kantor piket, betapa terkejutnya aku dsana sudah ada bude’ ku, ada apa bude’ kok tiba-tiba dateng? Masih kangen ya sama milah, kan milah baru satu hari di sini…” kataku asal, “ mm milah skarang ikut bude’ ya, tadi bude udah izin sama sekoalh dan asrama untuk ngajak milah keluar sebentar” kata bude ku, “lha ada apa toh bude? Kok mendadak amat?” jawabku penasaran dan bingung, “ sudah ikut bude cepat” bude’ ku mulai cemas. Sampailah kami di sebuah parkiran rumah sakit, aku bingung ini sebenarnya siapa yang sakit, knpa buru-buru sekali.. “bude ini siapa yang sakit?” pak lek? Kataku penasaran, bude ku hanya diam dengan muka cemas, aku pun ikut cmas aku tak berani menduga-duga.. aahhh tidak mungkin aku mencoba untuk berfikir positif,

Ketika sampai depan ruang icu, betapa kagetnya aku, semua sudah berkumpul dsna, ada mbaa nikmah, mbaa iskomah, semua datang, “mbaa ada apa ini?” tanyaku mulai cemas

“sabar yaa, masih ada mbaa ni’” kata kakak pertamu ini dengan suara bergetar,

“embaa, ada apa sih ini!” kata ku mulai tidak sabar mbaa ku menangis, aku tahu betul itu kenapa….

“abah knpa mbaaa!! Jawaabbb!!!” kataku berteriak, kakak ku mengangis semakin keras, aku tak kuasa menahan berat beban tubuhku dan tiba2 semua gelap..

Abah, kata itu selalu aku rindu ingin memenggilnya, ahh anadai abah tau betapa rindunya ahh anadai abah tau betapa rindunya aku berbincang mengenai sekolahku, cita-citaku kepada abah,, ahh abah, andai abah tau betapa aku sangat mencintainya, andai abah tau aku sekarng sudah merantau jauh, seperti kata abah dulu, jika ingin dewasa merantau lah….

Ahh abah, kenapa singkat sekali, tenyata alllah lebih sayang abah daripada aku, aku selau rindu candaan abah kepadaku, suara abah, sarung abah, suara abah, marahnya abah, suara tadarus abah, sekarang kemana lagi rindu ini akan berlabuh abah,, aku selalu sayang abah…

Semoga Abah di sayang ALLAH……………………………

KETIKA CABE-CABEAN SUDAH KEBUSUK-BUSUKAN

Sedikit nyentrik ketika ane pilih untuk menulis tentang sicabe- cabean, entah darimana istilah cabe-cabean muncul ane rasa di kamus besar bahasa Indonesia istilah itu belum ada. Well kalo begitu mari kita telaah apa itu yang dimaksud dengan cabe-cabean sebelum kita membahas hal yang lebih jauh lagi, HERE WE GOOOOO!!!!

Istilah cabe-cabean semulanya digunakan sebagai istilah untuk menggambarkan fenomena kelakuan remaja yang tergabung dalam kelompok balapan motor liar. Pemenang dalam kompetisi balapan ini bisa mengncani gadis si cabe-cabean ini, dewasa ini istilah cabe-cabean sudah meluas mencangkup prilaku remaja perempuan, usia SMP ataupun SMA, yang serba gampangan dan bisa diajak kemana-mana dengan obral murah (naudzubillahimindzalik)

Para remaja cabe-cabean biasanya suka menggunkan pakaian yang minim serta menggundang perhatian, dan tak jarang bertingkah diluar dari kebiasaan remaja pada umumnya. Sering hang out diluar batas jam pulang dalam hal ini jam 21.00 ke atas bergaul bebas demi mencapai popularitas dikalangan mereka.

Menurut psikolog Tika Wibisiono sebagaimana dilansi tempo.co, menjelaskan bahwa fenomena cabe-cabea sebenarnya kejadian alami yang harus dilewati para remaja, tapi dalam kasus ini hasilnya negative. Tika menganggap pada fase ini remaja sedang tertular dengan apa yang terjadi dilingkungan.

Lain Tika lain pula penulis Raditya Dika, penulis yang terkenal karena sering membawakan stand up comedy ini juga pernah berkelakar bahwa sebelum menjadi dewasa para remaja harus melewati fase alay terebih dahulu baru setelah melewati fase alay tibalah saat menjadi dewasa.

Nah bagaimana kita sebagai seorang muslim menanggapai fenomena diatas?? Oke we will see…

Islam adalah agama rahmatan lilalamin yaitu rahmat untuk semua agama yang memanusiakan manusia, petunjuk untuk semua umat. Dalam islam sudah diatur bagaimana cara kita menjalani kehidupan dengan cara seperti manusia yang ahsan (baik) mulai dari kita anak-anak sampai kita menjadi orangtua. Tingkah polah, prilaku kitapun ada aturannya. Istilah cabe-cabean yang sedang marak saat ini adalah sebuah fenomena yang bikin sakit kepala, bagaimana tidak remaja-remaja Indonesia yang mayoritas penduduknya beragam islam ini malah ikut-ikutan berprilaku layaknya remaja-remaja di barat sana, remaja muslim kita tengah mengalami krisis identitas yang teramat parah, berpakaian minim, bergaul tanpa batasan, bermottokan pacaran is nomero uno dibandingkan dengan prestasi belajar di sekolah, belum lagi sinetron-sinetron di televisi yang un educative sekali dengan judul-judul yang terkadang tidak masuk akal, di sinetron tsb banyak seklali mempertontonkan adegan adegan romantisme yang tidak seharusnya. Yang acapkali ditiru oleh para remaja diluar sana, tak jarang anak usia dini yang terinspirasi dari sinetron tsb, sungguh degradasi moral besar-besaran ini namanya. Banyak para remaja muslim yang malah terjerumus diusia yang seharusnya kaya akan prestasi, motivasi tinggi seta haus akan ilmu ini harus kehilangan semua itu karena tertular dengan apa yang terjadi dilingkungan tak jarang kita temui remaja putri yang aborsi, saling bully membully antar teman/kelompok., melakukan tindakan criminal, sampai dengan narkoba, kalau sudah begini namanya bukan lagi cabe-cabean tetapi cabe yang sudah busuk-busukan. Kalau sudah begini siapa yang musti disalahkan?? salah gue, salah temen-temen gue??

#eh let’s get serious!! Oke, dalam hal ini terlalu naïf apabila kita saling tuduh siapa yang harus di salahkan, orangtuakah, sekolahkah, lingkunagankah, guru sekolahkah, guru ngajikah, pemerintahkah, atau pagar tetanggakah?? Ah sudahlah dalam hal ini kita semua yang mengaku dewasa dan matang dalam berfikir lah yang bertugas untuk meluruskan fenomena kelam ini apa pun profesinya entah itu guru, dokter, pegawai swata, negeri seniman, pejabat, presiden semua harus mengambil alih untuk memperbaiki fenomena yang terlanjur menjadi cabe-cabe busuk ini.

Teruntuk orangtua mulailah dengan memberikan arahan yang baik, pendidikan agama yang baik sehingga walaupun usia mereka masih ABG mereka sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, control setiap aktifitas mereka tanpa harus menjadi otoriter, jadilah kawan bgi mereka, sabahat yang bisa saling berbagi bukan menjadi atasan yang disegani, dan bagian terpenting adalah jadilah teladan yang baik bagi anak-anak kita dengan meneladani sifat-sifat Rasululla, SAW dengan begitu in’sha’allah keluarga nabawiyah akan terwujud dan generasi-generasi emas penerus bangsa akan begelimangan layaknya pasir yang berhamburan di pantai yang siap membangun negeri yang gemah ripah loh jinawi ini…….

Sekian wassalam, jumpa lagi di tema yang berbeda soobb….

Indonesian History Is An International History Ngutip salah satu judul buku karya sejarawan China atau Korea gitu, ane lupa readers…hehe

Indonesian History Is An International History
Ngutip salah satu judul buku karya sejarawan China atau Korea gitu, ane lupa readers…hehe

Abad ke-16 adalah periode penting dalam sejarah manusia. Setelah sekitar 1000 tahun mengalami zaman kegelapan, Barat mengalami proses kebangkitan besar yang lazim disebut Renaissance (Kelahiran Kembali) sebagai akibat pengaruh Timur yang sejak sekitar 5000 sebelum Masehi mengalami masa jaya yaitu capaian prestasi kemanusiaan praktis tanpa putus hingga awal abad ke-19. Perang Salib (1095-1291) yang dilaksanakan Barat ke wilayah kekuasaan Timur yang terbentang dari Iberia hingga Mesopotamia meningkatkan minat Barat untuk mengenal Timur. Ketika itu Timur tampil menjanjikan atau menggiurkan nyaris dalam segala hal.
Kebangkitan Barat antara lain dalam bidang teknologi (setelah belajar dari Timur) mendorong mereka keluar dari dunianya mencari “dunia lain” untuk ditaklukan. Kemenangan yang diraih Portugis tahun 1267 dan Spanyol terhadap kaum Muslim Arab pada 1492 sungguh memabukkan mereka. Rasa percaya diri sebagai manusia unggul bangkit, tetapi pada saat bersamaan dunia Barat – waktu itu masih sebatas benua Eropa– sedang terancam oleh gerak maju bangsa Timur lain yaitu Muslim Turki ke bagian timur dan tenggara Eropa. Dengan demikian penjajahan ke seberang lautan masuk pula dalam agenda Renaissance. Adapun semboyan imperialisme Barat adalah gold (mencari kekayaan), gospel (menyebar pengaruh berupa nilai-nilai yang dianut Barat) dan glory (mencari kehormatan).
Proyek penaklukan pertama Barat –dalam hal ini Portugis– adalah Kesultanan Malaka (1400-1511), yang mungkin adalah negeri yang paling makmur di Asia Tenggara saat itu. Konon kerajaan tersebut dibentuk oleh seorang pangeran dari Majapahit, setelah menganut Islam dia mengubah namanya dengan Megat Iskandar Syah. Ketika tiba di wilayah tersebut dia menilai bahwa dia berada pada tempat yang strategis terutama dari segi ekonomi: Selat Malaka, selat yang sejak awal Masehi telah menjadi jalur ramai antara dunia Barat dengan dunia Timur. Dia bersekutu dengan penduduk lokal dan membangun fasilitas untuk berlabuh. Benar saja, dalam waktu relatif singkat banyak kapal-kapal asing yang singgah atau mukim, Malaka yang berawal dari kampung nelayan berubah menjadi pelabuhan bertaraf internasional.
Ini semua berkaitan dengan sejarah masuknya islam di Indonesia karena letaknya yang strategis Indonesia menjadi salah satu tujuan dagang dari banyak negara salah satunya adalah para niagawan dari Jazirah Arab dan Persia. Di perkirakan islam masuk ke Tanah Nusa ini pada sekitar abad ke 7 Masehi, banyak para sejarawan Indonesia yang mengatakan bahwa islam masuk ke Indonesia pada awal abad ke 13 M, padahal pada abad segitu islam bukan pertama kali datang ke Indonesia, melainkan islam berkembang di Indonesia dan mulai mempunyai kekuatan politik sama halnya dengan sejarah kerajaan hindu-budha di Indonesia, agama hindu-budha, berdiri pada saat mayoritas penduduk dan pemimpin mereka sudah menganut agama tersebut, bukan berarti agama hindu budha masuk ke Indonesia dan langsung membuat kekuatan politik dengan nama kerajaan, oke kembali ke sejarah Indonesia sebagai kerajaan internasional, rempah-rempah dari Indonesia sudah terkenal dari sejak zaman Khalifah Utsman bin Affan, Indonesia sebagai pemasok rempah-rempah yang lumayan diperhitungkan ditambah lagi letak Indonesia yang strategis untuk dapat disinggahi, belum lagi kedatangan laksamana besar Cheng Ho ke Indonesia mampir di Aceh, Palembang dan tanah Jawa, ini berarti Indonesia mempunyai peran dalam penulisan sejarah international, cuma karena para kompeni yang kagak ngepro ke ulama-ulama Indonesia jadi deh sejarah Indonesia mengalami tambal sulam seperti sekarang ini, selain itu deislamisasi juga terjadi dihampir semua sejarah di belahan dunia ini, wallahu alam bishawab.
Oke sob, ane tutup dengan jargon berikut ini
“INDONESIA, NEGERI KAYA MENDERITA, NEGERI MAKMUR NAN MELARAT, INDONESIA TANAH SUBUR TAPI KERONTANG…….

BENARKAH PERADABAN MANUSIA DI MULAI DENGAN PERANG????

Manusia adalah makhluk Yang berakal, yang mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Apabila manusia telah kehilangan  kemampuannya dalam membedakan yang mana yang benar dan mana yang salah maka patut di curigai ada sesuatu yang tidak benar dalam segumpal daging berbentuk yang sering kita sebut  HUMAN…..

Di mulai dari Sperma dan sel telur bertemu, dan kemudian bersatu membentuk sel tunggalyang disebut zigot. Satu sel tunggal ini merupakan cikal-bakal manusia. Sel tunggal ini kemudian membelah dan memperbanyak diri. Beberapa minggu setelah penyatuan sperma dan telur ini, sel-sel yang terbentuk mulai tumbuh berbeda satu sama lain dengan mengikuti perintah rahasia yang diberikan kepada mereka. Sungguh sebuah keajaiban besar: sel-sel tanpa kecerdasan ini mulai membentuk organ dalam, rangka, dan otak (Harun Yahya) sebelum jadi manusiapun seperma-seperma tersebut berperang, berkompetisi, berebut sel telur sehingga BANG!!!!  Jadilah manusia,, dari sebelum menjadi seonggok daging kita sudah berperang, berkompetisi, untuk menjadi seorang manusia,.

Dimulai dari persaingan antara habil dan qabil, yang menyebabkan pertumpahan darah untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, dilanjutkan dengan peperangan raja-raja terdahulu, mulai dari namrud,  sabil wars/ salib wars, world war I, world war II, sampai detik ini israel-palestine, yang tak ada kunjung habisnya..  sejarah bangsa kita pun tak terlepas dari persaingan, perperangan, mulai dari majapahit, portugis, belanda, jepang, sampai dengan tergulingnya orde baru zaman Soeharto dulu selalu timbul pertikaian, peperangan yang selalu membawa kerugian baik, harta, jiwa dan harga diri. Sekarang timbul pertanyaan baru, masihkah manusia dapat membedakan yang benar dan yang salah? Semuanya serba benar ketika bertikai, semuanya serba diijinkan ketika berperang, dunia pun pusing.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al A’raaf, 7:56)

Perang oleh sebagian tokoh dianggap sebagai sesuatu yang sakral, suatu yang harus di lakssanakan untuk membela harkat dan martabat dan yang tak kalah penting lagi adalah kepercayaan mereka, agama mereka, sebagian yang lain beranggapan lebih kepada kemakmuran golongan, perebutan harta dll. Miris memang melihat peradaban manusia yang lebih mementingkan kepentingan golongan, sehingga menindas golongan yang lain, merampas hak golongan yang lain, mengambil alih bahkan tidak jarang mengambil hak asasi mereka…..

Andai the beatles bisa lebih popular dengan imagine nya ……………..

you may say i’m a dreamer, but i’m not the only one

SEMOGA LEBIH BERMANFAAT………………………

wajah buram pendidikan di Indonesia

pendidikan kita? miris!?

 

 

Sometimes we need something different, yup pendidikina kita sepertinya butuh di instal ulang entah itu sistem maupun orang-orangnya, anak didik kita tertekan boo dengan sistem-sistem yang banyak ujiannya (evaluasi)

pernahkah kita berfikir semua itu beban bagi mereka mulai dari ulangan harian, ujian tengah semester, uas, uan… baban itulah yang akhirnya banyak anak usia sekolah menghalalkan segala cara untuk dapat lulus dari evaluasi tersebut, yang pada akhirnya kualitas dari mereka tidak mumpuni, secara nilai moral pun mereka minus, karakter yang di harapkan sulit di dapatkan

Pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan nasional seperti kehilangan semangat pendidikan yang telah dimanahkan konstitusi. Salah satu tujuan bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan sepertinya masih sangat jauh untuk bisa dikatakan telah berhasil apabila kita melihat kondisi yang ada saat ini. Permasalahan yang muncul salah satunya berakar dari kebijakan pemerintah yang kurang tepat. Sistem kebijakan yang cenderung bersifat top-down membuat tidak maksimalnya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Sebagai contoh, kebijakan baru mengenai kurikulum 2013 yang baru saja dikeluarkan sementara kondisi yang ada banyak di daerah pelosok nusantara ini sekolah-sekolah bahkan belum terjamah oleh kurikulum-kurikulum yang sebelumnya. Ini membuktikan bahwa minimnya perhatian mengenai pemerataan yang seharusnya lebih diutamakan mengingat amanah yang ada dalam konstitusi bahwa yang berhak atas pendidikan adalah setiap warga Negara dan bukan hanya segilintir masyarakat yang beruntung.